
Setiap kali masuk tahun baru, pertanyaan yang paling sering saya dengar dari teman kantor sampai grup keluarga selalu mirip: “Kalau beli Bitcoin sekarang, masih ada untungnya nggak sih?” Nah, di 2026, pertanyaan itu biasanya dibumbui satu hal: rasa takut ketinggalan (FOMO) dan rasa trauma karena volatilitasnya.
Saya nggak akan jawab dengan gaya “pasti untung” atau “pasti rugi”. Realistisnya, beli Bitcoin di tahun 2026 bisa untung atau rugi—tergantung harga masuk, cara belinya, tujuan waktu, dan seberapa kuat kita ngelola risiko. Yang bisa kita lakukan adalah membuat keputusan yang lebih terukur, bukan berdasarkan emosi.
Baca juga : Trading Crypto di Binance untuk Pemula
Daftar Isi
Penjelasan inti topik
Kalau ditanya “beli Bitcoin di tahun 2026 untung atau rugi?”, saya biasanya mulai dari tiga kacamata: siklus pasar, fundamental jangka panjang, dan konteks pribadi kita.
1) Siklus pasar: 2026 kemungkinan masuk fase setelah euforia
Bitcoin punya sejarah siklus yang sering dikaitkan dengan halving (pengurangan reward penambang). Secara historis, lonjakan besar sering terjadi setelah halving, lalu diikuti fase koreksi yang bisa panjang. Halving terakhir terjadi 2024, sehingga 2025 sering dianggap periode yang rawan euforia (meski tetap tidak pasti), dan 2026 sering berada di fase “setelah pesta”—bisa berupa konsolidasi panjang, bisa juga koreksi tajam.
Apakah artinya 2026 buruk? Tidak selalu. Justru bagi sebagian orang, fase setelah euforia sering membuka peluang akumulasi yang lebih “dingin”, ketika headline media mulai sepi dan orang-orang berhenti pamer profit.
2) Fundamental: pasokan terbatas vs permintaan yang berubah-ubah
Fundamental Bitcoin yang paling terkenal adalah pasokannya terbatas (21 juta). Di sisi lain, permintaan sangat dipengaruhi faktor eksternal: suku bunga, likuiditas global, regulasi, dan selera risiko investor. Saat kondisi ekonomi global ketat (misalnya suku bunga tinggi, likuiditas seret), aset berisiko seperti kripto cenderung lebih mudah terkoreksi.
Di 2026, kuncinya bukan “Bitcoin bagus atau jelek”, melainkan: apakah kondisi makro mendukung aset berisiko? Apakah arus institusi dan produk investasi (seperti ETF di beberapa negara) masih mendorong permintaan? Itu yang lebih menentukan pergerakan harga jangka menengah.
3) Konteks pribadi: horizon waktu adalah penentu utama
Orang yang beli untuk 3 bulan jelas beda risikonya dengan yang beli untuk 3–5 tahun. Banyak yang salah kaprah menganggap Bitcoin itu “tabungan” tapi ekspektasinya “cepat kaya”. Bitcoin lebih cocok diposisikan sebagai aset spekulatif-bertumbuh dengan volatilitas tinggi. Kalau tujuan Anda jangka panjang dan porsi portofolio terukur, fluktuasi 2026 bisa jadi “noise”. Tapi kalau Anda butuh uangnya tahun itu juga, volatilitas bisa jadi masalah besar.
Pengalaman, praktik, atau kesalahan umum yang sering terjadi
Saya pernah melewati beberapa fase pasar kripto, dan pola kesalahannya itu-itu saja. Ini beberapa yang paling sering saya lihat (dan jujur saja, beberapa pernah saya lakukan juga).
1) Masuk karena FOMO, keluar karena panik
Skema klasik: harga naik kencang, teman-teman mulai cerita profit, kita beli di harga tinggi. Begitu turun 10–20%, kita panik dan jual. Hasil akhirnya? Beli mahal, jual murah. Padahal kalau dari awal sudah paham volatilitas, penurunan seperti itu “normal” di Bitcoin.
2) All-in karena yakin “pasti naik”
Kesalahan paling mahal biasanya bukan salah pilih aset, tapi salah ukuran posisi. Bitcoin bisa turun besar bahkan saat narasinya bagus. Kalau Anda all-in pakai dana darurat atau uang kebutuhan dekat, turun sedikit saja sudah bikin keputusan jadi emosional.
3) Salah pilih tempat beli dan abai soal keamanan
Di lapangan, saya lebih sering melihat orang rugi karena hal non-teknis: salah kirim jaringan, tertipu “admin exchange” palsu, ikut grup sinyal yang ujungnya ajakan deposit, atau menyimpan aset besar di tempat yang tidak aman. Kerugian seperti ini terasa lebih menyakitkan karena bukan karena market, tapi karena keteledoran.
4) Tidak punya rencana exit
Banyak orang fokus “kapan beli”, tapi tidak punya rencana “kapan ambil untung” atau “kapan stop loss”. Akhirnya saat profit besar, malah serakah. Saat rugi dalam, malah berharap balik modal tanpa strategi. Rencana sederhana jauh lebih berguna daripada prediksi harga yang kelihatan canggih.
Tips atau langkah praktis yang bisa diterapkan
Kalau Anda mempertimbangkan beli Bitcoin di tahun 2026, ini langkah yang paling masuk akal menurut saya—bukan untuk menjamin untung, tapi untuk memperkecil peluang rugi karena keputusan emosional.
1) Tentukan tujuan dan timeframe sejak awal
- Jangka pendek (mingguan–bulanan): siap mental volatilitas besar dan disiplin risk management.
- Jangka menengah (6–18 bulan): fokus pada strategi entry bertahap dan ambil profit sebagian.
- Jangka panjang (3–5 tahun+): utamakan akumulasi konsisten dan keamanan penyimpanan.
2) Gunakan strategi DCA (beli bertahap)
Daripada menebak harga bottom, banyak praktisi memilih Dollar Cost Averaging (DCA): beli nominal tetap secara berkala (misalnya mingguan/bulanan). Ini membantu menurunkan risiko “salah timing” dan lebih cocok untuk orang yang tidak mau stres memantau chart.
3) Atur porsi: jangan ganggu dana darurat
Aturan praktis yang sering saya pakai: dana darurat tetap aman dulu, baru investasi. Untuk porsi Bitcoin, banyak orang nyaman di kisaran kecil dari total aset/investasi. Anda bisa mulai dari porsi yang kalau turun 50% pun Anda masih bisa tidur nyenyak. Kedengarannya sepele, tapi ini penentu apakah Anda bisa bertahan di market.
4) Siapkan rencana ambil untung bertahap
Alih-alih menunggu “puncak”, saya lebih suka skema bertahap. Contohnya:
- Ambil sebagian saat target pertama tercapai (misalnya +20% atau +30%).
- Naikkan stop loss atau amankan modal setelah profit tertentu.
- Sisakan sebagian kecil untuk jangka panjang.
Modelnya fleksibel, yang penting ada aturan main sebelum emosi ikut campur.
5) Prioritaskan keamanan: 2FA, whitelist, dan self-custody bila perlu
- Aktifkan 2FA (lebih baik aplikasi authenticator, bukan SMS).
- Pakai fitur whitelist address jika tersedia.
- Untuk nominal besar dan penyimpanan lama, pertimbangkan hardware wallet dan pelajari cara backup seed phrase dengan benar.
Keamanan itu bukan paranoia. Di kripto, kesalahan kecil bisa permanen.
6) Perhatikan faktor makro dan regulasi, tapi jangan kebanyakan noise
Cek hal besar seperti arah suku bunga, kebijakan likuiditas, dan isu regulasi besar. Namun batasi konsumsi “prediksi harian” yang bikin Anda overtrade. Saya sering lihat orang rugi bukan karena analisanya jelek, tapi karena kebanyakan ganti rencana setiap ada berita baru.
Insight / pelajaran penting
Kalau harus merangkum: beli Bitcoin di tahun 2026 bukan soal menebak apakah harganya akan naik atau turun, melainkan soal apakah Anda punya sistem yang membuat Anda bertahan saat market tidak sesuai harapan.
Beberapa pelajaran yang menurut saya paling relevan:
- Volatilitas adalah “harga masuk” untuk potensi return. Kalau ingin aset yang tenang, Bitcoin mungkin bukan tempatnya.
- Rugi terbesar biasanya datang dari ukuran posisi yang kebesaran. Bahkan strategi bagus bisa gagal kalau Anda terlalu agresif.
- Waktu masuk penting, tapi cara masuk lebih penting. Entry bertahap sering mengalahkan nekat sekali beli.
- Keamanan itu bagian dari strategi. Profit besar tidak ada artinya kalau aset hilang karena salah klik atau phishing.
Dan yang paling sering dilupakan: tidak semua orang harus punya Bitcoin. Ada orang yang lebih cocok fokus ke instrumen yang lebih stabil dulu. Tidak ada piala untuk “paling cepat ikut tren”.
Catatan singkat: semua ini bersifat edukasi dan pertimbangan umum, bukan nasihat keuangan personal. Sesuaikan dengan kondisi dan profil risiko Anda.
Pada akhirnya, “untung atau rugi” di 2026 sangat mungkin ditentukan oleh hal-hal sederhana: apakah Anda membeli dengan rencana, dengan porsi yang sehat, dan dengan kepala dingin. Kalau itu bisa dijaga, Bitcoin bisa jadi bagian portofolio yang menarik. Kalau tidak, Bitcoin akan terasa seperti mesin emosi yang menguras energi.
Kalau Anda sedang menimbang, coba mulai kecil, pelan, dan evaluasi berkala. Kadang keputusan terbaik bukan yang paling cepat, tapi yang paling bisa Anda jalani konsisten.


































