Bitcoin vs Saham: Berkorelasikah?

55

Pada hari kamis (11 Juni 2020) silam, trader dan investor dihadapkan dengan kenyataan bahwa market menunjukkan sinyal negatif. Khususnya crypto market, terjadi penurunan yang cukup signifikan sebesar 5%. Di sisi lain, perlu digarisbawahi juga pada saat bersamaan, pasar saham juga mengalami penurunan serupa.

Pertanyaan yang muncul kemudian dari dua kejadian tersebut adalah “apakah keduanya berkorelasi?” Apabila benar, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah “untuk apa kita masuk ke pasar kripto kalau memang mereka saling berkorelasi antar satu sama lain?” Karena sejatinya, narasi Bitcoin yang tidak berkorelasi itu hanya untuk menjadi strategi marketing agar investor masuk ke pasar kripto.

Sebelum masuk ke Analisa teknikal, saya meggarisbawahi disclaimer terlebih dahulu bahwa ini hanya opini, bukan financial advice.

Chart S&P 500 vs Bitcoin

Gambar di atas adalah chart komparasi antara S&P 500 (index saham gabungan AS) dan Bitcoin sejak 2017. Kenapa saya menggunakan indicator S&P 500 dan Bitcoin? Karena kapitalisasi market dan valuasi marketnya adalah tertinggi dibandingkan masing-masing valuasi saham dan pasar kriptonya. Sehingga, mereka menjadi leading indicator bagi masing-masing marketnya.

  • Coretan pertama adalah bull market yang menyentuh top di tahun 2018. Saat itu keduanya memasuki fase reversal (transisi antara bull market dan bear market) selama setahun. Saat itu, Bitcoin top di $20,000 dan S&P 500 top di $2,800.
  • Coretan kedua adalah ketika bear market yang menyentuh bottom di awal tahun 2019. Masing-masing market menunjukkan sinyal reversal dengan berakhirnya bear market dan mulainya bull market. Saat itu Bitcoin menyentuh angka $3,000 dan S&P 500 menyentuh angka 2,400.
  • Coretan ketiga adalah tragedi sell-off pada yang terjadi di bulan Maret ini setelah kejadian langka atau disebut “black swan event” dimana tepat terjadi setelah Donald Trump melakukan konferensi pers untuk me-lockdown seluruh perbatasan negara karena merebaknya pandemi covid-19. Market menunjukkan sinyal negatif dengan drop fantastis sebesar 50% bagi Bitcoin dan 60% bagi S&P 500. Dan terakhirm kita kembali menyaksikan atraksi serupa kala market drop pada kamis lalu.

Tiga analisis di atas cukup menjabarkan bahwasanya Bitcoin dan saham saling berkorelasi satu sama lain. Selain itu, kesimpulan lain yang bisa dipetik adalah pada saat berkorelasi, bukan berarti mereka mengarah ke arah yang sama.

Perlu digarisbawahi, market kripto diperdagangkan 24 jam sedangkan pasar saham dibuka pada saat tertentu saja, tepatnya pada hari kerja senin-jumat. Sehingga, dengan kapitilasasi market yang masih relatif kecil dibandingkan saham dan durasi waktu diperdagangkan yang lebih fleksibel, menjadikan nilai dari Bitcoin unik yang kadang nilainya bisa berlebihan ketika di fase overbought dan oversold.

Pemain besar seperti CME  tidak memiliki wallet pribadi untuk diperdagangkan di pasar spot retail seperti kita. Mereka berdagang di market futures berdasarkan kontrak yang harganya dipatok dan di backed-up bitcoin atau cash yang mana sesuai betting prediksi supply & demand. Dengan cara seperti ini, CME hanya berdagang sesama whales di instrumen financial market. Sehingga diperdagangkan juga di weekdays dan munculnya gap yang diyakini sebagai indikator bagi CME untuk mengembalikan harga seperti kontrak yang diperdagangkan di weekdays.

Selain itu, argumen yang paling relevan atas berkorelasinya Bitcoin dan saham adalah Bitcoin sudah menjadi global financial asset. Maksudnya, para whales mulai berspekulasi bahwa Bitcoin adalah aset, bersama aset lain, memiliki fungsi dan karateristik yang memiliki nilai tersendiri untuk dijadikan pasar dan diperdagangkan di pasar. Mengenai Bitcoin, valuenya terletak di unconfiscatable, scarcity dsb.

Sehingga, ketika market terjadi sell-off seperti bulan Maret silam, para whale yang terkena Margin Call dari besarnya aksi jual besar-besaran di pasar saham, mereka harus menambal kerugian dengan melikuidasi aset mereka yang ada di kripto. Dan market Futures memperparah keadaan, dimana trader mencatat kontrak jual dengan harapan harga bitcoin terjun bebas yang mempengaruhi para trader spot sehingga supply Bitcoin tidak diminati di sirkulasi pasar.

Atas dua analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pertanyaan yang menjadi signifikan bukanlah “apakah Bitcoin dan saham berkorelasi?”, melainkan “kapan Bitcoin dan saham berkorelasi?”

JOIN TELEGRAM BITCOIN INDONESIA
(GRATIS SINYAL TRADING)